Kamis, 02 Januari 2014

Mahabharata dalam Sastra Jawa

Mahabharata
Pengaruh Mahabharata besar sekali dalam sastra Jawa. Mungkin lebih besar daripada Ramayana. Mahabharata yang delapan belas parwa panjangnya telah dibuat dalam bahasa Jawa, dalam bentuk prosa. Di antara parwa-parwa yang terkenal ialah Adiparwa, Wirataparwa, dan Bhismaparwa. Pengaruh Mahabharata begitu mendalam sehingga orang Jawa menganggap pahlawan-pahlawan dari epos india sebagai nenek moyang mereka. Mahabharata sesungguhnya telah mendarah daging dalm kehidupan orang Jawa. Pertunjukkan wayang Purwa yang sangat digemari oleh orang Jawa, mengambil epos dari India. Khususnya Mahabharata.
Peperangan yang besar dinyanyikan dalam Kekawin Bharata Yuddha yang mula disusun oleh Mpu Sedah pada tahun 1157 di masa pemerintahan Jaya baya dari Kediri. Sedang yang menyelesaikan ialah Mpu Panuluh yang mana dia adalah pujangga Jawa yang sangat produktif, selain itu ia juga menyusun Kekawin Hari Wangsa yang menceritakan perkawinan Krisna dengan istrinya Rukmini. Kekawin Bharata yuddha diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa baru oleh seorang pujangga keraton yang bernama Yasadipura I di masa pakubuwana III. Gubahan Yasadipura I ini disebut Brata Yudar dan bersama-sama dengan Kekawin Bharata Yuddha menjadi bahan pertunjukkan wayang yang sangat penting.
Mahabharata dalam Sastra Melayu
Mahabarata dalam sastra melayu terkenal dengan nama Hkayat Pandawa.hikayat ini biasanya juga bernama hikayat Pandawa Lima,hikayat Pandawa jaya, Pandawa Panca lima.Ada juga cerita Pandawa yang menyimpang dari cerita Pandawa,misalnya Hikayat pandawa Lebur,Hikayat Angkawijaya.
Cerita Pandawa adalah saduran bebas dari syair Jawa kuno, yaitu kakawin: Hikayat Sang Boma adalah saduran bebas dari kakawin Bhomakawya.Ada juga para sarjana yang berpendapat bahwa cerita Pandawa dalam bahasa melayu sebenarnya adalah cerita wayang. Bukan itu saja,bahwa Kekawin Jawa Kuno juga dianggap saduran cerita wayang.Mungkin kekawin dan cerita wayang pernah sama-sama mempengaruhi cerita Pandawa dalam bahasa Melayu.Versi cerita Pandawa yang terkenal ialah Hikayat Pandawa Lima.
Hikayat Pandawa Lima
Van Der Tuuk membagi naskah ini menjadi tiga bagian,Bagian Bagian pertama adalah cerita lakon yang indah-indah ,bagiaqn kedua adalah cerita peperangan yang dinamai penulis naskah Hikayat Pandawa Jaya.Bagian ini adalah saduran dari Kekawin Bharata Yuddha yang disusun Mpu Sedah.Bagian ketiga ialah cerita lakon yang tidak terdapan pada Kekawin Bharata Yuddha.jalan cerita naskah menyerupai Hikayat Pandawa Lima yang diterbitkan oleh Khalid Hussain.
Ringkasan cerita (Menurut Naskah Royal Asiatic Society no.2)
     I.   Barma Sakti bertanding kekuatan dengan Brahma dan masuk ke tempat kediaman Dewi Puspa Maniaka. Ia mengambil Dewi Puspa Maniaka sebagai istri kemudian melahirkan dua orang putra. Salah seorang ialah Sang Mangunang. Sesudah besar, Sang Mangunang merebut negeri Marcu Jantaka dari tangan Maharaja Dewa dan menamakan dirinya Warga Dewa.
     II. Bagian ini mengisahkan peperangan yang hebat. Batara Kresna dikirim ke Astinapura untuk meminta setengah kerajaan dari Duryudana seperti yang dijanjikan. Duryodhana, disokong oleh Karna, menolak mengembalikan setengah kerajaan kepada para Pandhawa. Maka terjadilah peperangan yang terkenal dengan nama Bharatayuda. Yang mula-mula gugur ialah Begawan, bisma, kemudian Drona, dan Karna. Kemudian Salya. Patih Sengkuni dan Duryodhana juga mati terbunuh. Dari pihak Pandawa juga banyak yang gugur, yang ternama ialah Abimanyu dan Gatotkaca. Peperangan ini berakhir dengan kemenangan para Pandawa. Bagian ini, menurut Van der Tuuk, adalah saduran dari Kekawin Bharatayuda karangan Mpu Sedah dan disadur dari bahasa Sanskrit.
     III. Patih Sengkuni setelah dibunuh oleh Bima, hidup kembali karena ia mempunyai kesaktian yang bernama “Panji Suata”. Patih Sengkuni menghimpun semua rakyat Kurawa yang bercerai-berai dan membuat negeri di hutan Imaguna. Hal ini terdengar oleh Kresna yang kemudian menganjurkan kepada Darmawangsa supaya mengirim orang pergi melihat benar tidaknya hal itu. Kresna menganjurkan supaya anak-anaknya Pramejamana yang diberi tugas ini. Kalau orang lain yang pergi pastilah Sengkuni melarikan diri. Adapun ketika Parikastri menjadi menjadi raja, kerajaan itu amat sentosa adanya. Tamatlah hikayat Pandawa Lima dari karangan orang yang bijaksana arif segala tuan-tuan membaca dia atau mendengar dia.
Naskah

NASKAH Hikayat Pandawa agak banyak. Di museum Jakarta ada 8 naskah, di perpustakaan Leiden ada 3. Judulnya berbeda-beda. Ada yang disebut Hikayat Pandhawa Lima; Hikayat Pandawa Jaya dan lain-lain. Yang agak berbeda dengan cerita Pandawa yang umum

Kesusasteraan Zaman Islam


1.   Jelaskan sejarah masuknya Islam di Indonesia!
            Tidak tahu dengan pasti darimana Islam datang di Nusantara. Pada umumnya sarjana berpendapat, batu nisan wanita Islam yang berada di Leran (Gresik) tahun 1082 adalah peninggalan Islam tertua. Sarjana juga setuju bahwa perkampungan Islam sudah ada pada waktu itu. Wanita itu bukan muallaf, sebab pada batu nisan tercantum nama ayah dan datuknya: Fatimah binti Maimun ibn Hibatullah.
            Pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa penduduk Perlak (di Aceh) telah memeluk agama Islam. Menjelang tahun 1297, Al Malikus Saleh, raja Islam pertama di Samudra Pasai mangkat. Ini menunjukkan bahwa waktu itu Pasai sudah mempunyai penduduk Islam yang cukup ramai.
            Pada tahun 1196 Gujarat ditaklukkan Islam. Ini berarti, orang yang berdagang di daerah Nusantara banyak yang beragama Islam. Tahun 1258, Baghdad jatuh ke tangan orang Mongol, sehingga perdagangan darat berhenti. Kedua faktor ini menyebabkan perkembangan Islam di Nusantara pesat sejak abad 13.
            Pada akhir abad 15, hamper semua raja pesisir jawa masuk Islam. Jauh sebelumnya tahun 1416 orang Tionghoa mencatat bahwa penduduk Sumatra di daerah Aru, Samudra, Pidir, dan Lambri sudah masuk Islam.
            Jatuhnya kota Malaka ke tangan Portugis merupakan titik penting perkembangan Islam di Nusantara. Sebab, pedagang berpindah ke daerah lain. Seperti ke Aceh, pesisir Jawa. Orang Aceh mengembangkan Islam ke Minangkabau dan di daerah-daerah lain di Sumatra. Orang Jawa membawa Islam bersama barang dagangan sampai ke Maluku, Makasar, dan Bugis. Dengan demikian, Islam pun tersebar ke seluruh Nusantara.
            Darimana datangnya Islam masih merupakan polemik. Menurut pendapat umum, bahwa Islam berasal dari India. Ada yang mengemukakan Gujarat, Malabar, Coromandel dan tempat-tempat lain di India Selatan. Namun sarjana Indonesia tidak menyetujui pendapat tersebut, mereka berpendapat bahwa Islam di Indonesia datangnya langsung dari tanah Arab.
            Selamet Muljana, telah mengemukakan suatu teori baru yakni, Islam di Jawa masuk dari Tiongkok. Berbagai teori telah  dikemukakan tentang cara penyebaran Islam di Nusantara, yang terpenting ialah :
a.       Teori perdagangan.
b.      Teori mubaligh.
c.       Teori tasawuf.
d.      Teori politik.
e.       Teori anti Nasrani.
f.       Teori keunggulan agama Islam.

2.   Jelaskan pembagian jenis-jenis kesusasteraan zaman Islam!
R. Rolvink menyatakan bahwa, untuk sementara waktu kaidah yang paling baik untuk mengkaji sastra yang dihasilkan di bawah pengaruh Islam itu ialah membaginya kepada beberapa jenis atau kategori. Di bawah ini adalah lima jenis sastra Islam yang disebutkannya.
1. cerita Al-Quran
2. cerita Nabi Muhammad
3. cerita Sahabat Nabi Muhammad
4. cerita Pahlawan Islam
5. Sastra Kitab

3.   Jelaskan tentang hikayat-hikayat berikut:
a.       Hikayat Nur Muhammad
b.      Hikayat Bulan Berbelah
c.       Hikayat Nabi Wafat
d.      Hikayat Muhammad Hanafiah
e.       Hikayat Samaun
f.       Hikayat Iskandar Zulkarnain

a.    Hikayat Nur Muhammad
Hikayat Nur Muhammad adalah sebuah hikayat yang sangat popular di kalangan orang yang cenderung kepada ilmu tasawuf. Nur Muhammad di anggap sebagai roh Nabi Muhammad yang mula-mula diciptakan oleh Allah. Kemudian diwariskan kepada Nabi Adam secara turun-temurun hingga kepada Nabi Muhammad. Sebelum alam ini jadi, Allah menjadikan Nur (cahaya). Maka Nur sujud kepada Allah lima puluh tahun lamanya. Kemudian Nur Muhammad dianugerahi tujuh petala laut, yaitu laut ilmu, laut latif, laut sabar, laut akal, laut fikir, laut rahmat dan laut cahaya. Setelah itu dijadikannya empat anasir, yaitu air, tanah, angin, api.
b.   Hikayat Bulan Berbelah
Hikayat Bulan Berbelah ini juga dikenal dengan nama Hikayat Mukjizat Nabi. Selain terdapat dalam bahasa melayu, hikayat ini juga terdapat dalam bahasa Bugis dan Makasar, anehnya cerita ini tidak terdapat dalam bahasa Aceh. Cerita ini memuat tentang mukjizat-mukjizat dari Allah. Hikayat ini berakhir dengan mengatakan bahwa barang siapa yang tidak percaya akan mukjizat ini, akan dimasukkan ke neraka dan merasakan berbagai siksaan. Barang siapa yang menurut kelakuan Abu Jahil, tiada selamat seumur hidupnya dan tiada mendapat kebajikan dunia dan akhirat.
c.    Hikayat Nabi Wafat
Hikayat Nabi Wafat atau Hikayat tatkala Nabi pulang ke Rahmahtullah, menurut Van Ronkel adalah sebuah daripada tiruan Wafat Nameh dalam bahasa Parsi yang banyak bilangannya. Salinannya sudah ada dalam bahasa Makasar dan Bugis.
d.   Hikayat Muhammad Hanafiah
Pada umumnya para sarjana berpendapat bahwa Hikayat Muhammad Hanafiah ini berasal dari sumber arab. Hikayat ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama adalah cerita Nabi Muhammad. Bagian kedua, cerita Hassan dan Hussain, dan bagian ketiga, cerita Muhammad hanafiah. Pembicaraan tentang hikayat ini akan baru akan dilakukan dalam cerita Sahabat Nabi Muhammad. Di bawah ini disajikan bagian pertama yang terdapat di dalam naskah yang dicap dengan batu di Singapura. Bagian ini sudah dihilangkan dari teks Hikayat Muhammad Hanafiah yang diterbitkan oleh L. F. Brakel.
e.    Hikayat Samaun
Hikayat Samaun ini sebenarnya berdasarkan suatu peristiwa tidak begitu penting dalam riwayat hidup Nabi Muhammad. Konon kabarnya sebelum Nabi menakhlukkan kota Mekah, banyaklah surat yang dikirim oleh Nabi untuk meminta bantuan dan diakui sebagai Rasul Allah. Hasilnya sangat mengecewakan, hanya raja Mesir yang berbangsa Yunani, Mukaukas, mengirimi dua orang budak perempuan. Salah satunya dikawini oleh Nabi dan melahirkan putera yang satu setengah tahun kemudian meninggal. Dari cerita inilah tercipta sebuah hikayat yang sudah disadur ke dalam berbagai bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, Sunda, dan Aceh. Bahkan dalam bahasa Arab ada sadurannya.
f.    Hikayat Iskandar Zulkarnain

Hikayat ini mengisahkan riwayat hidup Alexander the Great (365-323 SM), putra Philipus dari Makadunia. Dalam hidupnya yang singkat, Alexander the Great pernah menaklukkan Mesir, Parsi, dan pernah membawa tentaranya hingga ke India. Oleh karena itu semasa hidupnya ceritanya sudah tersebar kemana-mana. Setelah wafatnya muncullah hikayat Iskandar, yang berisi berdasarkan sejarah dan sebagian berdasarkan kepahlawanan yang dianggap telah dilakukan Iskandar. Sadurannya di Indonesia, Bugis, Jawa, dan Melayu.

Pengaruh Ramayana dalam Sastra Melayu Klasik


      Bentuk cerita Ramayana (transformasinya) dalam sastra melayu klasik.
Cerita Ramayana, dalam perjalanannya mengalami beberapa pergeseran alur cerita, karena setiap daerah mempunyai versinya sendiri. Di Thailand misalnya, cerita Ramayana diceritakan di situ enam daripada rajanya bernama Rama dan raja juga dianggap titisan wisnu. Ibu kota Thailand, Ayuthia, juga mengingatkan kita kepada Ayodya yang disebut dalam Ramayana. Hal ini berbeda sekali dengan Ramayana asli dari India.
Di Laos, cerita Rama diceritakan di situ dalam Rama Jataka yang suda dipengaruhi oleh Dasarata Jataka. Rama Jataka agak aneh jalan ceritanya. Dalam cerita ini Rama dan Rawana adalah saudara sepupu, dan di ending cerita Sita (di sini bernama Cantha) diberikan kepada Rawana sebagai istri. Di Campa (Vietnam selatan sekarang) cerita Rama sudah menjadi semacam epos rakyat dan semua peristiwa dianggap berlaku di Campa. Sedangkan di Indonesia, Cerita Rama telah dipahatkan dipahatkan di relief-relief di candi Loro Jonggrang, di prambanan Jogjakarta. Di saat itu pula, cerita Rama telah disalin dalam bentuk puisi Jawa yang paling kuno, yaitu Kakawin Ramayana. Pada paroh kedua abad 18, seorang penyair istana, Yasadipura mengubahnya dalam kawi miring (puisi baru Jawa dalam bentuk macapat). Gubahan Yasadipura ini ialah Serat Rama.
Di samping serat Rama, munculah cerita Rama. Cerita Rama ini sering diberi nama Serat Kanda Ning Ringgit Purwa (ringkasnya Serat Kanda saja. Serat Kanda adalah cerita Rama yang khas Jawa, di dalamnya di sisipkan juga cerita islam, pandawa dan cerita Jawa. Ada juga cerita Rama yang diberi nama Raja Kling. Raja Kling ini, jalan ceritanya hampir sama dengan Hikayat Melayu.
Serat Kanda Ning Ningrat Purwa, pada awalnya cerita ini dimulai dengan pengtengkaran Adam dan Hawa kemudian adalah cerita watu gunung. Sampai cerita Rama dan Laksamana, Dasamuka di gambarkan di situ memaksa Dasarata, ayah Rama menyerahkan permaisuri Lesmanadari kepadanya. Setelah itu, adalah cerita Rama merebut Sinta dalam sayembara yang diadakan oleh Kala. Naskah ini berakhir dengan tiba-tiba. Di ending cerita diceritakan Rama dan Sinta mandi dalam satu kolam dan menjadi kera.

Sastra Jawa masih mengenal cerita Rama yang diberi nama Ramayana Sasak, Rama Tambak dan Rama Nitis. Dari ketiga cerita tersebut, Ramayana Sasak lah yang mengandung cerita Rama yang agak lengkap dan cerita lainnya hanyalah mengandung sebagian daripada cerita Rama saja. Rama Tambak hanya menceritakan bagian akhir perang di Langka. Sedangkan Rama Nitis tentang pemberontakan Anggada. Suatu ciri yang khas yaitu cerita Pandhawa yang sudah di campur-adukkan dengan cerita Rama dalam suatu cerita yang sama.

EDITING NASKAH MELAYU DAN KRITIK TEKSTUAL


            Pekerjaan editing dan naskah melayu penerbitan berjumlah sebanyak lima ribu (Ismail Husein 1974: 12) dan telah berlangsung sejak awal abad ke 19. dan pada tahun 1846 telah tersedia teks dalam bentuk cetak dan sekitar seratus tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 87 edisiberbagai jenis yang sebagian besar di dasarkan pada bahan naskah.
 Disertasi tentang naskah melayu di terbitkan pada tahun 1895. hal tersebut di ikuti oleh  sekitar tiga puluh tesis  yang sebagian besar sudah di terbitkan. Hal  yang merangkum lebih dari lima puluh tahun upaya ilmiah terkait ketika sarjana menulis bahwa tugas editing adalah suatu rumit yang membutuhkan kepatuhan yang kaku kepada fakta serta pengalaman generasi ulama klasik Eropa yang telah banyak dari Indonesia.
            Menurut penelusuran Lenting, tidak ada editor sebelumnya pernah di sebut pekerjaan yang di lakukan di kritik klasik, mereka di pekerjakan oleh metode dan teknik untuk mengikuti prinsip – prinsip dan tampak beberapa dukungan untuk beberapa prestasi yang lebih di kenal dalam bidang studi. Menurut Lenting tidak sampai 1971 bahwa editor Indonesia seperti di Jawa tengah, teks yang di sebut verbis ekspresis untuk prestasi dalam study klasik eropa. Meskipun hampir edisi teks melayu memiliki dalam berbagai derajat, memanfaatkan prinsip – prinsip kritik klasik dan metode editorial tersebut, sarjana melayu tampaknya di bagi tentang maksud dan tujuan kegiatan mereka. Mereka yang sangat berkomitmen dengan teori stematik dan yang cadang tidak berusaha untuk merekonstruksi teks dari apa yang mereka asumsi. Orang – orang dalam teori tampaknya mengikuti pendekatan pertama. Tetapi dalam kenyataanya kompromi dan mengikuti kedua, berakhir di kebingungan metodologis mengucapkan. Kebingungan ini segera mendorong satu untuk merefleksikan sifat teks dan naskah malayu dan relevansi kepada mereka prinsip – prinsip yang tepat dengan kondisi studi klasik.
            Di eropa klasik, teks yang telah mengalami sejumlah perubahan yang terlihat jelas selama berabad – abad pada turun abad pertengahan renainse. Di tulis dalam bahasa yang relative mati untuk sebagian besar periode di mana mereka di kirim. Dalam teks yunani telah banyak melalui papyrus oleh tradisi tekstual yang dapat di telusur jauh ke belakang. Konvensi retoris dan metric juga berperan karena mereka dalam proses memulihkan teks korup.hal ini tidak selalu membawa kita ke Urtex, tetapi lebih ke pola dasar bahwa itu sendiri sudah korup dan penuh interpolasi yang perlu koreksi.
            Dalam filologi melayu, sebaliknya, kita di hadapkan dengan suatu tradisi yang hidup. Tidak hanya bahasa melayu yang hidup, pemahaman teks di awetkan dalam salinan abad ke 17 tidak menimbulkan masalah intelektual besar ke pembicara bahasa melayu, tetapi ada juga fakta bahwa penyalinan naskah melayu yang di anggab yidak begitu banyak proses mekanis reproduksi sebagai proses kreatif. Seorang penulis mendorong penyalin masa depan untuk melanjutkan pekerjaanya dan menambahkn dalam penyalinan teks. Dengan begitu dapat di tunjukan bahwa teks yang paling melayu adalah anonym dan kita tidak tahu siapa yang bersembunyi di balik ungkapan – ungkapan seperti fakir.
            Melihat tradisi naskah melayu dari sudut pandang sejarah itu mungkin adil untuk mengatakan bahwa naskah melayu berasal dari periode yang sama dengan yang sarjana klasik yang berusaha keras untuk menembus dengan prinsip – prinsip dan metodologi. Banyak naskah melayu yang ada dala penyalinannya menggunakan kapur ketika bahasa teks masih ea dan ketika teks – teks itu sendiri memiliki lebih dari kepentingan akademik. Mengenai teks melayu, sangat  sedikit yang di ketahui tentang perbedaan regional dan sejarah dalam tata bahasa dan gaya. Untuk menempatkan naskah yang kita miliki dalam perspektif berdasarkan bukti internal yaitu dengan menggunakan criteria linguistic dan sastra tidak mungkin saat ini. Hanya baru – baru ini upaya serius sudah dapat di lakukan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi unsur- unsure linguistic milik sastra melayu.
Naskah – naskah yang kita miliki hingga saat ini berjangka waktu sekitar empat ratus tahun. Periode ini tidak di tandai dengan perubahan linguistic mencolok dan kita di wajibkan untuk mengakui bahwa pengetahuan bahasa dan sastra hanya di mulai pada saat islam memberi pengaruh pada tradisi budaya sebagai hasil yang sangat sedikit dari apa yang telah di turunkan segera di identifikasi sebagai asal pra islam, bahkan jika kita tahu bahwa inti dari suatu teks yang di berikan sangat harus mendahului salinan yang diawetkan. Meskipun dalam kasus puisi berirama, seperti syair lebih mudah untuk mendeteksi kesalahan dan kontaminasi, kita menghadapi kesulitan yang sama seperti dengan teks prosa ketika mencoba untuk membentuk suatu tatanan sejarah.
            Dapat di asumsikan bahwa banyak kasus itu, satu asli di gunakan dalam penyalinan naskah yang di lakukan. Semua teks - teks( yang tidak secara langsung di terjemahkan) asli melayu masa di bawah diskusi, dan bahkan beberapa terjemahan telah turun kepada kita yang secara umum dalam hubunganya dengan pola dasar yang mereka dan Urtex jarang di kenali karena penularan horizontal dan apa yang telah di sebut terbuka tradisi.
 Dan beberapa teks dalam tradisi tekstual yang lebih luas adalah mungkin untuk membangun semacam hubungan stematik semua atau bebeapa naskah yang masih ada. Mengingat sifat khusus dari material sebaiknya menggunakan satu naskah sebagia panduan dan dasar untuk menghindari peningkatan jumlah variasi yang alan di bahas oleh para sarjana masa depan dengan hibrida. karakteristik khusus sastra melayu seperti yang di jelaskan pada kenyataanya sangat mengingatkan pada kondisi mendapatkan dalam studi perjanjian pratistik, dari pada klasik eropa, dan mewajibkan editor yang tidak ingin kaku mematuhi salah satu teori untuk mengubah pendekatan dalam perawatan yang cocok. Ketika mempelajari naskah melayukita harus meneria kenyataan bahwa dalam banyak kasus yang paling   kita capai adalah sebuah teks bebas dari kesalahan juru tulis jelas.
            Pada titik ini mungkin berguna untuk mengingat karakter dari beberapa hahan. Sebagian besar naskah sekarang di simpan dalam musem – museum du seluruh dunia di alin dalam kesultanan Riau dan Johor. Beberapa naskah sering di anggap berasal dari daerah pinggiran dunia melayu, dan dari daerah tanpa peran politik yang penting seperti johor. Apakah mungkin pengetahuan kita tentang naskah tergantung pada kepentingan dari Eropa yang kebetulan membeli manuskrip di sana. Namun pembeli tersebut tidak memberikan rincian yang memadai sepeerti bagaimana, di mana dan mengapa mereka mengumpulkan manuskrip ini. Dalam kasus terjemahan bahasa arab, kita harus menyelesaikan atau dalam pembacaan naskah melayu bukan mencoba mencari bagaimana pekerjaan akan harus mencari penerjemahan bahasa jika telah mngikuti sumber aslinya lebih dekat, atau sudah mengerti lebih baik.
            Setiap editor yang layak harus mengedit teks yang melibatkan antara ejaan dan tanda baca dalam cara – cara konvensional, namun tanpa memaksa kerangka kaku standar prasangka atas bukti tekstual naskah yang seperti berdiri dalan banyak kasus orang saksi dalam dirinya sendiri suatu tradisi tertentu di tempat tertentu pada waktu tertentu dan karenanya tidak layak mau di gangguan.
 Oleh karena itu dalam mempersiapkan edisinya, editor harus berkonsentrasi pada edisi satu naskah tertentu, mentransfer bahan perbaningan untuk catatannya. Dalam banyak kasus naskah tertentu salah lagi menawarkan dirinya sebagai naskah pedoman dan dasar untuk sebuah edisi. Ketika mengedit satu teks tertentu sebagaimana tercantum oleh sekelompok naskah satu mungkin sebagian benar dalam menarik kesimpulan seperti mengubah studi menyeluruh. Cacatan keanehan ini mungkin akan penting, namun ketika mencoba untuk membuat koneksi antara naskah sebagai tradisi, serta untuk penelitian asal dan asal daerah naskah tersebut, sedangkan hasil studi tersebut pada giliranya mungkin membantu untuk analisis bahasa dan gaya dalam konteks yang berbeda.
            Penggunaan computer dalam penyalinan naskah belum popular di humaniora, dan tentu saja tidak merabah ke bidang filologi melayu. Ulama klasik juga melihat hal itu dengan kecurugaan. Selama bertahun – tahun penggunaan computer telah menerima dorongan, terutama yang berurusan dengan terbuka tradisi yang ingin di anggap serius untuk mengabaikan keberadaanya atau menolak potensinya. Salinan langsung dari naskah tunggal yang sebagian besar di tulis atas permintaan eropa dan bentuk khusus yang terpisah . jika naskah mereka telah di salin dan dapat di identifikasi dan lebih terawatt salinan ini secara umum tidak ada nilai untuk mendirikan konstitusi teks.


Pengertian Morfologi

 Pengertian morfologi dalam Bahasa Indonesia
a.   Morfologi (atau tatabentuk; Inggr. Morphology, dulu juga Morphemics) adalah bidang linguistic yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Gramatikal di sini mutlak, karena setiap kata juga dapat dibagi atas segmen yang terkecil yang disebut fonem itu, tetapi fonem-fonem itu harus berupa fonem. (Verhaar.1984. linguistik Umum. Yogyakarta : Gajah Mada University press).
b.   Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk struktur kata dan arti kata. (Ida Bagus Putra Yasa. 2008. Kajian Morfologi. Bandung : Refika Aditama).
c.   Morfologi ialah ilmu bahasa tentang seluk-beluk kata (struktur kata). (Junaiyan dan Zaenal Arifin. 2007. Morfologi. Jakarta : Grasindo).
d.  Morfologi merupakan sebuah komponen tata bahasa generatif transformasional yang membicarakan tentang struktur internal untuk membentuk sebuah kata, khususnya kata yang kompleks.  ( Abdul Muis Ba’dudu. M.S.R Herman.2005, Morfosintaksis. Jakarta : Aneka Cipta ).

2.      Pengertian morfologi dalam Bahasa Inggris
a.    Morphology are Includes the constructions of phrases. As a some compound words ( black bird ). Which contain no bound forms among their immadiate constituents, and yet in some ways exhibit morphologic, rather than syntactic types of contruction. ( Leonard Bloomfield. 1993. Language. New york, Renc hart and Winston).
b.  Morphology is deals weth the internal structure of word and syntax with the rules governing their combination in sentence. Disisi lain Ia mengatakan, such minimal units of gramatical, analysis of which words may composed are customarily refered to as morphemes. ( Yus Baduda : Morfologi bahasa Indonesia ).
c.    Morphology is a discipline focusing on the study of word-structure at one stage in the life of a language rather than on the evolution of words. (Katamba, F. 1994. Morphology. London : Macmillan).

d.     Morphology is the word has already made its appearance in the previous section, where its structure was defined in terms of syllables. But it can be defined in other terms as well. (Widowson, H. G. 1996. Linguistics. New York : Oxford University Press).

Sastra Melayu Klasik--Hikayat Muhammad hanafiah

Hikayat Muhammad Hanafiah
Pada umumnya para sarjana berpendapat bahwa Hikayat Muhammad Hanafiah ini berasal dari sumber arab. Hikayat ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama adalah cerita Nabi Muhammad. Bagian kedua, cerita Hassan dan Hussain, dan bagian ketiga, cerita Muhammad hanafiah. Pembicaraan tentang hikayat ini akan baru akan dilakukan dalam cerita Sahabat Nabi Muhammad. Di bawah ini disajikan bagian pertama yang terdapat di dalam naskah yang dicap dengan batu di Singapura. Bagian ini sudah dihilangkan dari teks Hikayat Muhammad Hanafiah yang diterbitkan oleh L. F. Brakel.
Ringkasan cerita
Dimulai dengan penciptaan Nur (cahaya) Nabi Muhammad. Maka Nur Muhammad pun sujud kepada Tuhan lima ribu tahun lamanya. Setelah itu dijadikan pula Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, dan Isa. Maka Jibril pun dititahkan pergi mengambil hati bumi untuk dijadikan lembaga Rasul Allah. Maka lembaga itu turun-menurun sampai kepada Amir Abdullah.
Selanjutnya diceritakan kisah Fatimah Syam yang terlalu tahu membaca kitab Taurat. Dilihatnya dalam kitabnya bahwa nabi akhir zaman akan lahir sebagai anak seorang lelaki yang dahinya bercahaya seperti bintang zohrat. Lelaki itu ialah Amir Abdullah. Maka pergilah Fatimah Syam untuk berjumpa dengan Amir Abdullah dan ingin bersuamikan Amir Abdullah. Amir pun bersedia menjadikan Fatimah sebagai istri, tetapi ia harus meminta izin dulu kepada bapaknya. Dalam perjalanan pulang, Amir Abdullah teringat dengan istrinya, Siti Aminah, yang parasnya seperti bidadari. Maka pulanglah Amir ke rumahnya dan berkhalwat dengan istrinya.
Setelah berkhalwat dengan istrinya, dengan takdir Allah, cahaya yang ada pada dahinya Amir Abdullah jatuh ke rahimnya Siti Aminah. Kemudian, Fatimah Syam yang melihat bahwa cahaya itu tidak ada lagi di dahinya Amir Abdullah menangis dan putuslah harapannya akan Amir Abdullah itu. Fatimah pun kembali ke negerinya, yaitu bani Syam.
Enam bulan kemudian, Amir Abdullah kembali ke rahmatullah. Aminah lalu melahirkan seorang anak lak-laki yaitu nabi akhir zaman. Tatkala nabi lahir itu, segala berhala binasa, api yang menyala padam, dan air laut pun menjadi kering. Mahligai Nursyirwan pun runtuh lalu jatuh ke bumi. Lalu awan putih muncul menjadi pengasuh nabi. Adapun Rasullulah tidak mau menyusui kepada ibunya. Akhirnya, Aminah mencari perempuan tua yang mau menyusui anaknya itu. Halimah, seorang perempuan dari banu Syam bersedia menyusui Rasullulah. Pada suatu hari, saat usia Rasul Allah 12 tahun, dia ditangkap oleh dua orang berpakaian putih. Rasullulah di bawa ke suatu padang dan perutnya dibelah lalu dijahit seperti semula. Anak Halimah yang melihat kejadian itu segera memberitahu ibunya. Mendengar cerita dari anaknya itu, Halimah segera bertanya pada ahli nujum. Akan tetapi, ahli nujum itu justru ingin membunuh Rasullullah. Halimah takut akan ada bahaya yang mengancam Rasullullah itu, lalu ia segera membawa Rasul Allah kepada Abdul Mutholib, kakeknya Rasullullah.
Suatu ketika, Abdul Mutholib meninggal dunia. Lalu Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Tholib. Pada usia delapan belas tahun, Siti Atiqah meminta Abu Tholib untuk mencarikan istri untuk Nabi Muhammad. Namun, Abu Tholib tidak mampu karena dia tidak mempunyai harta untuk ia berikan kepada calon istrinya Muhammad. Kemudian, Atiqah pun mencarikan calon istri untuk Muhammad. Siti Khadjah, seorang janda kaya, melihat Nabi Muhammad sangat tampan langsung terpesona dan ingin menikahinya. Akhirnya mereka menikah dan dari hasil pernikahannya itu mereka diberi empat orang anak, yaitu Zainab, Ruqqayah, Kulthum, dan Fatimah. Lalu, suatu hari, ketika nabi sudah berumur 40 tahun, malaikat Jibril datang membawa wahyu dan nabi diajari untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah itu, Nabi mengajari Khadijah untuk membaca dua kalimat syahadat itu.

Pada suatu riwayat, Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Setelah beberapa lamanya, nabi sakit lalu ia meninggal dunia dalam usia 66 tahun. Lalu, ketika Fatimah sudah besar, Fatimah menikah dengan Ali. Kemudian Ali menikah lagi dengan wanita lain dan menghasilkan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Hanafiyah. Muhammad Hanafiyah yang kemudian meneruskan perjuangan Nabi Muhammad untuk membela agama Islam dari musuh-musuhnya.

Rabu, 01 Januari 2014

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN



Menurut ilmu anthropologi, “kebudayaan” adalah keseluruhan sistem gagasan,tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri sendiri dengan belajar. Keseluruhan dari tindakan manusia yang berpola itu, berkisar sekitar pranata-pranata tertentu yang amat banyak jumlahnya. Dengan demikian sebenarnya suatu masyarakat yang luas selalu dapat kita perinci ke dalam pranata-pranata yang khusus. Sejajar dengan itu, suatu kebudayaan yang luas itu selalu dapat pula kita perinci ke dalam unsur-unsurnya yang khusus.
Para sarjana anthropologi yang biasa menanggapi suatu kebudayaan (misalnya kebudayaan minangkabau, kebudayaan bali, atau kebudayaan Jepang) sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, ketika hendak menganalisis membagi keseluruhan itu ke dalam unsur-unsur besar yang disebut “unsur-unsur kebudayaan universal” atau cultural universals.
Istilah universal itu menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut ada dan bisa di dapatkan di dalam semua kebudayaan dari semua bangsa di mana pun di dunia. Ketujuh unsur yang dapat kita sebut sebagai isi pokok dari tiap kebudayaan di dunia itu adalah :
1.Bahasa
2.Sistem pengetahuan
3.Organisasi sosial
4.Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.Sistem mata pencaharian hidup
6.Sistem religi, dan
7.Kesenian
Tiap-tiap unsur kebudayaan universal sudah tentu juga menjelma dalam ketiga wujud kebudayaan yang telah diuraikan pada minggu yang lalu, yaitu wujudnya berupa sistem budaya, berupa sistem sosial, dan berupa unsur-unsur kebudayaan fisik. Dengan demikian, misalnya :
1.      Bahasa
Pada sistem bahasa, kegiatan budayanya mencakup bahasa lisan dan tulisan.
Dalam penggunaannya biasanya jenis bahasa lisan digunakan dalam cerita masyarakat tradisional atau cerita yang dalam penyebarannya secara lisan dari seseorang ke orang lain. Untuk jenis bahasa tulis, biasanya hasil budaya tulisnya terdapat dalam naskah-naskah kuno. Selain naskah ada juga prasasti-prasasti bagian dari kebudayaan megalitikum yang menggunakan batu untuk di tulisi serta di beri gambar. Selain itu tiap kelompok masyarakat menghasilkan bahasa yang khas yang di sebut dialek, dialek ini juga mempengaruhi bahasa yang digunakan untuk menghasilkan kebudayaan daerah.
Jadi dapat di simpulkan bahwa kebudayaan tidak terlepas dari bahasa, untuk contoh atau wujudnya adalah naskah-naskah kuno, prasasti-prasasti batu megalitikum, dan lagu-lagu tradisional.
2.      Sistem pengetahuan
Pada sistem pengetahuan, ada tiga tahapan yang biasa digunakan untuk menghasikan kebudayaan. Tiga tahapan itu ialah :
Ø  Ide : titik awal untuk mendapat atau memperoleh gagasan yang kemudian di buat    wujudnya atau di buat nyata.
Ø  Gagasan/pendapat : pendapat seseorang atau tanggapan seseorang terhadap ide yang muncul.
Ø  Wujud nyata/fakta : bentuk/wujud nyata dari ide dan gagasan.

Contoh : - ide : membuat kursi.
-  Gagasan : untuk membuat kursi dibutuhkan alat dan bahan.
-Wujud nyata/fakta : setelah alat dan bahan siap di tambah akan dijadikan apa bahan itu, kemudian masuk tahap pembuatan kursi, dan akhirnya jadilah sebuah kursi.
3. Organisasi sosial
Unsur besar ini ada adatnya, aktivitas sosialnya, dan peralatan fisiknya. Mengenai berbagai subunsurnya seperti :
·         Sistem kekerabatan
·         Sistem komuniti
·         Sistem pelapisan sosial
·         Sistem pimpinan
·         Sistem politik
·         tata hukum, dan
·         perkawinan

3.      Sistem peralatan hidup dan organisasi
Pada sistem peralatan hidup dan teknologi, baik modern maupun tradisional, tercakup diantaranya :
§  alat-alat rumah tangga
§  perumahan
§  senjata
§  teknologi komunikasi, dan banyak lagi
5.Sistem mata pencaharian hidup
Unsur kebudayaan universal sistem mata pencaharian misalnya, dapat diperinci ke dalam beberapa subunsur seperti :
o   perburuan
o   peladangan
o   pertanian
o   peternakan
o   perkebunan
o   perdagangan
o   industri
o   kerajinan
o   industri pertambangan
o   industri jasa, dan
o   industri manufaktur,
o   sistem produksi
o   perbankan
Tiap bagian tadi mempunyai wujudnya sebagai sistem budaya yang akan kita sebut sebagai adatnya.
Wujudnya sebagai sistem sosial yang akan kita sebut sebagai aktivitas sosial.
Dan wujudnya yang fisik berupa berbagai peralatan yang tentunya merupakan benda-benda kebudayaan.
6. Sistem religi
Pada sistem ini misalnya, mempunyai wujud sebagai sistem keyakinan, dan gagasan tentang Tuhan, dewa, roh halus, neraka, surga dan sebagainya. Akan tetapi, mempunyai wujud juga berupa upacara, baik yang bersifat musiman maupun yang kadangkala.
Selain itu, setiap sistem religi juga mempunyai wujud sebagai benda-benda suci dan benda-benda religius.
7.Kesenian
Unsur universal kesenian dapat berwujud :
1.      gagasan
2.      ciptaan
3.      pikiran
4.      ceritera, dan
5.      syair yang indah
Namun, kesenian juga dapat berwujud tindakan-tindakan interaksi yang berpola antara seniman pencipta, seniman penyelenggara, sponsor kesenian, pendengar, penonton, dan konsumen hasil kesenian.
Selain itu semua, kesenian juga berupa benda-benda indah, candi, kain tenun yang indah, benda kerajinan dan sebagainya.